Sunday, September 20, 2015

Passive Income : Property



Tulisan sharing ini hanya sebagai teaser/penggoda atau pembuka saja untuk menyadarkan kita semua bahwa langkah untuk mencapai financial freedom perlu dicapai.

Satu hal yang pasti kita perlu belajar secara bertahap, menjalankannya hasil pelajaran tersebut dan belajar plus praktekkan terus dari guru-guru terbaik.

Property bisa menjadi passive income tetapi juga expense (alias biaya). Jika tidak bijak bisa juga menjadi alligator alias menghancurkan kekayaan jika tidak memahaminya dengan baik.

Bagaimana supaya property bisa menjadi passive income ?

Ada satu cara yang sederhana. Misalnya kita melakukan kepemilikan aset pada property dengan dana sebesar Rp. 50 juta pada penyewaan rumah sederhana 1 pintu, yaitu ruang tamu kecil, kamar tidur dan keluarga serta dapur plus kamar mandi.  

Jika dalam sebulan diperoleh Rp. 300ribu, maka dalam setahun akan diperoleh 7%, masih lebih tinggi dari bunga deposito bank saat ini. Belum lagi ada kemungkinan harga property tersebut akan naik. Jika berada pada lokasi yang tepat dapat naik antara 5% – 10% atau dalam setahun bisa memperoleh passive income sebesar 15% an. Cukup lumayan khan.

Property aset cukup baikjika memahami caranya dan melindungi aset tersebut dari risiko-risiko yang dimungkinkan. Dengan asuransi dan kontrol yang baik terhadap legal/sisi hukum, life style, sisi pemasaran dan sisi pengelolaan dapat meningkatkan penghasilan serta mengamankan aset.

Ada banyak strategi lain dalam kepemilikan aset di property. Untuk tahap awal saja sudah memperoleh sebesar 15%-an, tentunya dengan kemampuan yang makin meningkat dapat memperoleh keuntungan dan keamanan kepemilikan aset lebih optimal lagi. 

Selamat melakukan kepemilikan aset di property untuk mendapatkan passive income.

Passive Income : Bisnis Tersistem



Bunga di kolam dalam gambar di atas cukup dibiarkan dan tidak dipelihara tumbuh dan berkembang dengan sendirinya. Keterlibatan manusia realtif sederhana atau bahkan hampir tidak melakukan sama sekali. Demikian juga dengan passive income dari bisnis tersistem.

Bisnis Tersistem adalah bentuk bisnis yang dengan sistem yang modelnya diciptakan untuk mengurangi keterlibatan usaha dan waktu pemilik. 

Sehubungan tersebut meminimalisasi keterlibatan dengan demikian ada kerja sama atau delegasi atau sinergi dengan pihak lain (others) dalam hal :
1. Skill
2. Waktu
3. Uang / Dana Penempatan
4. Orang (people) yang bekerja
5. Sistem
dan lain sebagainya.

Beberapa bisnis tersistem menurut pertimbangan penulis diantaranya :
  1. Konglomerasi
  2. Waralaba (Franchisor atau pemberi waralaba) 
  3. Proven MLM (hati2 bukan money game),
  4. Channeling Distribution Business
  5. Public Company
  6. Internet & Aplication Business
  7. Copyright Business
  8. Consultancy & Membership Business
  9. Mixed Business
  10. Others. 

Bisnis tersistem ini bukan tanpa risiko tetapi dengan pemahaman yang mendalam kepemilikan aset dan pendalaman masing-masing bisnis tersistem akan mengurangi faktor risikonya. 

Contoh-contoh di atas bisa menjadi bisnis tersistem yang menguntungkan atau sebaliknya bisa menjadi risiko dengan menggerus nilai dana kepemilikan aset Anda di bisnis tersistem.
Logikanya dimungkinkan  konsep Modal Dengkul/ Nothing Down atau Penny Investment sehubungan ada kerja sama atau sinergi dengan pihak lain. 

Artinya untuk memulai bisnis tersebut Anda tetap ikut terlibat di awal, modal yang diperlukan umumnya bukan modal uang tetapi usaha di awal. 

Jika sistem sudah benar- benar berjalan Anda akan memetik hasilnya beberapa tahun kemudian. Buah yang dipetik tergantung kerja keras, strategi, pengalaman, pengetahuan dan terutama dari mana Anda belajar (Guru terbaik yang proven  dan bukan komentator semata).

Percayalah tidak ada bisnis yang cukup membalikkan tangan saja, semuanya butuh pembelajaran, pengalaman, usaha terus (jatuh bangun) dan tidak menyerah. Juga butuh waktu untuk bertumbuh atau berkembang.

Selamat mulai mendapatkan passive income.

Passive Income : Paper Asset


Paper Asset atau kepemilikan aset pada surat berharga banyak yang tidak mendalami. Seringkali kepemilikan aset di surat berharga dianggap tidak real dan di awang-awang. Padahal di US 1 dari 3 kepala rumah tangga pasti pernah memiliki aset di reksa dana (salah satu bentuk paper asset).

Jika tidak kenal maka tidak sayang. Memang dalam kepemilikan aset pada paper asset ada dua hal yang perlu di dalami yaitu :
  • pengetahuan umum tentang kepemilikan aset dan 
  • kedua pengenalan lebih dalam akan keuntungan dan risiko atas instrumen kepemilikan aset yang dipilih. 


Ada 2 motto yang sering didengungkan di pasar modal dan pasar uang, sebagian besar bentuk paper asset mengalir di sini. 
  1. Pertama My word is my bond, artinya kata-kata dealer/broker/perantara di pasar harus bisa dipegang karena itu adalah kepercayaan yang harus menjadi dasar kepercayaan investor menanamkan dananya. 
  2. Kedua adalah jangan tempatkan kepemilikan aset hanya pada satu keranjang, seperti gambar di atas jangan tempatkan telur pada satu keranjang. Jika .telur itu pecah maka kita tidak memiliki telur lagi. Seperti dana kepemilikan aset yang ditempatkan pada satu jenis instrumen atau satu pasar, jika instrumen / pasar tersebut mengalami kerugian maka seluruh dana akan rugi. Sayang khan ??

Passive Income bisa diperoleh di Paper Asset, tanpa terlibat terlalu banyak jika ada keuntungan maka akan dapat pendapatan, sebaliknya jika ada kerugian kemungkinan nilai aset akan berkurang. Tingkat keamanan dapat ditingkatkan dengan melakukan hedge/perlindungan atau asuransi atas instrumen paper asset tersebut.

Pembahasan lebih detail akan panjang lebar  perihal paper asset ini, investasi paper asset diantaranya saham, deposito, reksa dana, forex, obligasi, options, komoditas, future dan sebagainya.

Mata Uang Bukan Segalanya


Mata uang sering jadi berhala baru, namun percaya tidak percaya tapi ambil hikmah dari peribahasa dibawah ini utk renungan kita ke arah yang lebih baik:

Dengan UANG, Anda Dpt Membeli RUMAH, Tp Bukan KEHIDUPAN.
Dengan UANG, Anda Dpt Membeli JAM, Tp Bukan WAKTU.
Dengan UANG, Anda Dpt Membeli BUKU, Tp Bukan PENGETAHUAN.
Dengan UANG, Anda Dpt Membayar DOKTER untuk KESEHATAN, Tp Bukan NYAWA.
Dengan UANG, Anda Dpt Membeli POSISI, Tp Tdk KEHORMATAN.
Dengan UANG, Anda Dpt Membeli DARAH, Tp Tdk NAFAS.
Dengan UANG, Anda Dpt Membeli SEKS, Tp Bukan CINTA.
Dengan UANG, Anda Dpt Membeli Apa Saja yg ANDA SUKA,
Tp Semua itu Tidak KEKAL ABADI, SEMUANYA Akan LENYAP dan MUSNAH Ketika ANDAPUN Sudah Tidak BERNYAWA.

Mengapa perlu Memiliki Aset ?


Seringkali, pandangan bahwa membelanjakan lebih banyak dilakukan daripada Kepemilikan Aset, lebih banyak terjadi dalam dunia nyata. 

Membelanjakan dapat dilihat sebagai menikmati saat ini sedangkan saat nanti urusan nanti. Kepemilikan Aset merupakan rencana tidak mengeluarkan biaya saat ini untuk mempersiapkan saat nanti masih memiliki asset atau income.

Bahasa simpel, membelanjakan bersenang-senang saat ini, bersusah-susah kemudian, sedangkan Kepemilikan Aset adalah menahan diri atau bersusah-susah saat ini bersenang-senang kemudian.

Dalam Kepemilikan Aset dengan mempertimbangkan keuntungan yang akan diperoleh terdapat risiko yang melingkupi dalam jangka waktu dan jenis aset dimaksud. 

Meski Kepemilikan Aset saja masih ada risiko, bagaimana jika sama sekali tidak melakukan Kepemilikan Aset ?

Jadi lakukan Kepemilikan Aset yang benar, tepat dengan strategi terbaik mulai saat ini.

Saturday, September 19, 2015

Apa saja Pertimbangan dalam Kepemilikan Aset…

Jenis Aset

Penulis secara umum membagi Aset utama yang baik untuk dikelola adalah Paper Aset, Properti dan Bisnis Tersistem.
Pengelolaan Aset tersebut sering kali disebut sudut pandang lain dengan "investasi" dan penulis khusus penyebut "Pengelolaan Aset".

Sumber Pendapatan

Secara sederhana penulis membagi sumber pendapatan jadi 3 yaitu aktif, masif dan pasif. Pendapatan aktif lebih pada pendapatan dari usaha dan waktu yang dikorbankan secara aktif untuk memperoleh pendapatan sejumlah tertentu tersebut. Pendapatan Masif adalah pendapatan yang diperoleh dalam jumlah besar. Pendapatan Pasif adalah pendapatan yang diperoleh dengan keterlibatan usaha dan waktu yang minimal.

Apa Kepemilikan Aset ?

Secara sederhana Kepemilikan Aset adalah kepemilikan dalam bentuk/instrumen aset berdasarkan alasan-alasan rasional yang dipertimbangkan dengan matang.

Bentuk/instrumen aset yang dalam hal ini baik dikelola adalah paper aset, properti dan bisnis tersistem. Detail masing-masing aset akan dirinci dalam tulisan tersendiri.

Dalam keputusan Kepemilikan Aset perlu mempertimbangkan beberapa hal berikut :
  • tujuan, bisa disimpan jangka panjang, untuk dijual kembali atau  tujuan khusus
  • jangka waktu, jangka pendek, menengah atau jangka panjang 
  • tingkat risiko, rendah, sedang atau tinggi
  • kondisi keuangan, dana segar   untuk jangka panjang, menengah atau pendek denagn jumlah tertentu
  • pengetahuan yang berkaitan


Konsep Kepemilikan Aset di sini berseberangan dengan spekulasi. Spekulasi ada porsi/bagian besar yang besar dalam keputusannya yang mengandung gambling atau ketidakpastiannya baik dalam rasionalitas, pertimbangan, keamanan maupun hasil Kepemilikan Asetnya. Atau secara sederhana, spekulasi tidak dengan pertimbangan rasional yang matang.

Apa Langkah Kepemilikan Aset ?

Ada beberapa langkah/step yang perlu dipertimbangkan sebelum melakukan Kepemilikan Aset pada satu atau beberapa bentuk/instrumen Aset. 

Langkah-langkah ini sering kali dilewati, padahal tiap langkahnya sangat penting.

Apa saja langkah Kepemilikan aset itu ?

1. Tentukan Tujuan Kepemilikan Aset !!

Secara garis besar ada 4 tipe tujuan Kepemilikan Aset yaitu :

a. Keamanan Dana
Keamanan dana merupakan tujuan Kepemilikan Aset yang mengharapkan dalam kurun waktu yang ditentukan, sampai jatuh tempo investasi atau pencairan besarnya dana untuk Kepemilikan Aset awal tetap atau tidak berkurang. Untuk tujuan ini biasanya pertimbangan lebih banyak pada tetapnya prinsipal dan likuiditas/kemudahan pada saat pencairan.
b. Keamanan Dana dan Pendapatan
Dalam tujuan Kepemilikan Aset ini selain keamanaan diharapkan ada pendapatan atau pembagian hasil secara berkala (misalnya bulanan, tahunan) yang diterima atau dibagikan, mungkin saja pendapatan berkala ini tidak besar.
c. Pendapatan dan Pertumbuhan
Tujuan investasi ini selain hasil Kepemilikan Aset berkala yang diterima, dalam hal pokok Kepemilikan Asetnya ada pertumbuhan. Besarnya pokok Kepemilikan Aset pada saat pencairan ada pertumbuhan atau lebih besar pokok (nilai Kepemilikan Aset awal).
d. Pertumbuhan
Tujuan Kepemilikan Aset ini lebih mementingkan adanya pertumbuhan dalam pokok atau nilai Kepemilikan Aset awal atau nilai prinsipalnya, keuntugnan yang diperoleh merupakan selisih antara hasil pencairan dan Kepemilikan Aset awalnya.

2. Berapa lama Jangka waktu Kepemilikan Aset?

Jangka waktu yang rasional untuk Kepemilikan Aset sangat bergantung pada bentuk instrumen Aset dan pertimbangan dari investor sendiri. Misalnya Kepemilikan Aset pada deposito, pendapatan berkala yang diperoleh adalah bulanan, Kepemilikan Aset pada saham bisa tahunan atau bahkan puluhan tahun, Kepemilikan Aset obligasi antara 3 sampai 10 tahun dan lain sebagainya.

3. Berapa Tingkat risiko yang sanggup ditanggung ?

Pemilik Aset yang memiliki dana dari hasil pensiun dan sudah memiliki umur, biasanya tujuan Kepemilikan Asetnya kombinasi dari keamananan dan pendapatan. Dengan demikian risiko yang sanggup ditanggung relatif rendah. Lain halnya dengan pegawai muda, ada yang berani untuk Kepemilikan Aset pada intrumen yang menantang, Kepemilikan Aset pada saham bisa menjadi pilihan.
Untuk mengelola risiko, biasanya penasehat keuangan memberikan rekomendasi alokasi Kepemilikan Aset (porsi bentuk Aset dan dan presentasenya masing-masing) yang unik berdasarkan pertimbangan yg komprehensif.

4. Bagaimana Keadaan keuangan Anda ?

Keadaan keuangan salah satu pertimbangan yang penting. Untuk pegawai yang penghasilannya sebesar Rp. 1 juta per bulan, paling tidak Kepemilikan Aset yang dapat dilakukan adalah Kepemilikan Aset berkala atau Kepemilikan Aset dari sebagian tabungannya. Mungkin untuk yang ini pilihan instrumen Asetnya terbatas karena nilai Kepemilikan Aset cukup kecil, jadi yang paling real adalah deposito atau reksa dana dengan denominasi/pecahan yang kecil.
Untuk pengusaha yang pendapatannya cukup besar mungkin dalam kisaran puluhan juta sampai ratusan juta, pilihan untuk Kepemilikan Asetnya cukup besar.
Jadi keadaan keungan cukup penting, selain dilihat dari profil pendapatannya, pola pengeluarannya juga sangat mempengaruhi untuk keputusan Kepemilikan Asetnya.

5. Pahami Pengetahuan untuk pengambilan keputusan Kepemilikan Aset tersebut !!

Makin banyak pengetahuan yang dipunyai tentang segala hal tentang Kepemilikan Aset makin berkurang risiko atas keputusan Kepemilikan Aset. Dengan demikian pengetahuan faktor yang penting. Jika waktu Kepemilikan Aset dalam waktu dekat merupakan pertimbangan yang penting, Pemilik Aset dapat menunjuk penasehat atau manajer investasi untuk Kepemilikan Aset tersebut. Penasehat Kepemilikan Aset hanya memberikan rekomendasi Kepemilikan Aset, manajer investasi dapat memberikan jasa rekomendasi termasuk pengelolaan dana Kepemilikan Aset berdasarkan atas kontrak atau perintah tertulis.

Ada 2 hal pengetahuan yang perlu didalami Pemilik Aset yaitu:
a. Tentang Kepemilikan Aset secara umum
b. Tentang produk yang akan dibeli

Jadi selalu pertimbangkan secara rasional dan matang sebelum ambil keputusan Kepemilikan Aset, jika perlu tanyakan pada perencana keuangan, penasehat Kepemilikan Aset atau manajer investasi agar lebih mantap dan komprehensif sebelum mengambil keputusan dalam Kepemilikan Aset.